Home > RESEARCH COLLECTION > Teknologi Piramida Menurut Para Ahli

Teknologi Piramida Menurut Para Ahli

Piramida dipercayakan dibangun oleh banyak orang yang mengangkat batu-batu alam dari tempat yang jauh kemudian disusun menjadi sebuah bagunan. Mengingat struktur tanah mesir adalah berpasir, dan gunung-gunung batu pun jauh dari letak piramida sekarang. Maka hal ini mustahil dilakukan. Timbul pertanyaan, bagaimanakah pahatan batu-batu besar itu dibawa pada masa tersebut kemudian di atur? Apakah orang-orang pada masa Fir’un itu memiliki kekuatan yang luar biasa? Ternyata tidak,

Hasil penelitian yang dilakukan beberapa peneliti menyebutkan bahwa kumpulan batu besar yang masing-masing bongkahannya mencapai 2,5 ton adalah hasil dari mencetak batu yang membentuk sekaras batu alam.

Sebagaimana yang diuangkapkan oleh Direktur Institute Geopolimer Prancis, Prof. Davidovits dalam bukunya “Ils Ont Bati Les Pyramides” (Cara Membangun Piramida) 2002, yang menyatakan bahwa piramida dibuat dari lumpur, tanah liat dan air di ambil dari sepanjang sungai nil, kemudian bahan ini disatukan dalam cetakan batu khusus.

Campuran ini selanjutnya dipanaskan pada suhu yang tinggi, yang menyebabkan komponen-komponen kimiawi dalam campuran ini saling berinteraksi dan membentuk sejenis batu, persis seperti batu gunung berapi yang mengeras setelah terjadi pemenasan alami dalam perut gunung. Dengan proses cetakan seperti ini, bisa dipahami mengapa semua ukuran batu itu sama.

Prof. Davidovit menambahkan bahwa, unsur-unsur yang dikandung oleh batu piramida itu berbeda dengan kandungan batu alam. Salah satunya, terdapat banyaknya kandungan air dan jumlah tersebut tidak ditemukan di batu alam. Hal ini didapat setelah diuji menggunakan Nanoteknologi (cabang teknik yang berhubungan dengan hal-hal kecil dari 100 nanometer).

Hasil uji sampel batu piramida dengan menggunakan microscope elektronik juga menunjukkan bahwa adanya kristal kuarsa. Kristal kuarsa ini terbentuk dari hasil pemanasan lumpur dan analisis dengan skala Mini E juga menunjukkan bahwa batu ini tidak alami karena terdapatnya silikon dioksida.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mario Collepardi, seorang porfesor dari Italia. Mario menyakini bahwa Fir’un menggunakan tepung kapur dicampur dengan tanah biasa yang kemudian dipanaskan dengan api hingga 900 derajat Celcius. Proses pemanasan ini yang menjadikannya mirip dengan batu alami.

Bila tori ini benar maka proses pembuatan piramida ini tidak sesulit yang dibanyangkan, hampir semua proses sama seperti masa sekarang mencampur semen dengan pasir dan air kemudian dipindahkan ketempat yang direncanakan.

Santunan Edisi 7

Categories: RESEARCH COLLECTION
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: